Today is Beautiful Day

Hari ini adalah hari yang indah. Maka di awal hari ini, aku berjanji akan membuat hari ini indah. Pertama, hari ini akan aku buat indah dengan shalat Karena dalam shalat ku, ketika shubuh tadi Aku menggantungkan banyak harapan-harapan indah pada tuhanku Kedua, hari ini ku buat indah dengan sedekah Karena sedekah ku di pagi hari ini Akan banyak mengundang rezeki dan menolak bala bencana Dengan sedekah ku di pagi hari ini membuat senyum si miskin merekah Ketiga, dengan senyuman ku buat hari ini menjadi indah Ketika tersenyum untuk orang tua ku, istri atau suami, adik, kakak, juga anak-anakku Itu menjadi tanda bahwa aku sangat mencintai mereka, dan mereka pun mencintaiku Saat aku aku tersenyum untuk tetangga sebelah rumahku, Itu juga menjadi tanda bahwa aku adalah bagian dari mereka, dan mereka pun bagian dari diriku Keempat, ku buat hari ku indah dengan menuntut sebanyak-banyaknya ilmu Semakin banyak yang aku tahu Aku semakin sadar bahwa sangat sedikit ilmu yang baru ku ketahui Maka, ilmu yang datang di hari ini adalah menjadi anugrah terindah yang aku terima Kelima, ku buat hari ku indah dengan menghargai orang lain dengan tulus Karena aku yakin, ketika aku berusaha mengangkat derajat seorang dengan kebaikan Maka Allaah yang akan mengangkat derajat ku Keenam, ku buat hari ku indah dengan masalah Karena dengan masalah Allaah mengasah ku untuk lebih bijaksana, cerdas dan dewasa Ketujuh, ku sudahi segala aktivitas ku dengan hamdalah Karena Allaah telah banyak memberi ku nikmat, kemudahan, dan pengajaran Karena Allaah tidak memberi ku beban yang aku tak sanggup menanggungnya Sehingga di malam harinya aku dapat beristirahat dengan tenang dalam penjagaan Nya Akhirnya baru ku sadari bahwa, setiap hari dalam kehidupanku Adalah hari yang indah………………. Terimakasih ya Allaah………………

TASA (Taman Ganesha-Salman), 21 Februari 2009

Engga nyangka, kalau pertemuan alumni akhwat smu tadi siang membuat saya betul-betul takjub luar biasa!. Bertemu dengan seorang guru pengajar agama di almamater saya smu, walaupun tidak sempat belajar dengan beliau karena beliau datang ke smu ketika saya sudah lulus tiga tahun dari smu. Tapi pertemuan pertama dengan beliau member kesan yang membuat saya takjub.

Saya sering mendengar nama beliau disebut-sebut oleh adik-adik mentor dulu ketika masih membina sekolah. Namanya Ibu Yuli, saya fikir beliau guru agama, yang mempunyai pola pengajaran sama seperti guru-guru lainnya (yang katanya kata adik-adik, lebih banyak ngebosenin.). Walaupun waktu itu adik-adik juga sering cerita kalau Bu Yuli itu beda banget. Namun selama saya masih rajin ke sekolah untuk ngisi mentoring saya belum pernah bertemu dengan beliau, dan baru hari ini saya bertemu dengan beliau.

Ternyata apa yang dibilang adik-adik memang benar. Ada semangat yang luar biasa ketika beliau di minta mengisi acara silaturahim akhwat kali ini. Bu Yuli menyampaikan materi dengan bahasa yang santun tetapi tetap semangat. Ada wawasan yang luas yang beliau fahami, dan ada kebijaksanaan yang beliau sampaikan tentang perbedaan pendapat dan pemikiran.

Acara baru dimulai pukul 10.00, padahal di agenda jam 09.00 ( hmmm…). Dan Bu Yuli mengisi materi pukul 10.30. Sewaktu saya bertanya sama teman, “materinya apa?” (karena kebagian nge mc). “Muslimah dan Peran generasi masa depan.” Jawab teman saya. Wiih…, luas banget bahasannya fikir saya. Dalam benak saya saat itu bahwa yang akan dibahas oleh pemateri adalah bahasan-bahasan biasa tentang peran seorang perempuan. Ya sebagai istri, mendampingi suami, mengurus anak, mengurus rumah, peran karir, keluarga, dan lain sebagainya, karena acaranya acara alumni jadi bahasannya agak-agak mengarah ke rumah tangga dan masa depan. Saya sudah kebayang begitu. “Gimana?.” Tanya teman saya. “Ok, siap.” Saya jawab singkat.

Ternyata, apa disampaikan oleh Bu Yuli jauh dari bayangan saya!. Beliau menyampaikan pada hal-hal yang sangat mendasar terlebih dahulu. Beliau menyampaikan pada hal-hal prinsip fitrah. Karena menurut beliau bicara masa depan berarti bicara masa sekarang. Apa yang dikerjakan saat sekarang, itulah gambaran masa depan. Wah, bener-bener diluar dugaan!. Bu Yuli memulai materinya dengan bercerita tentang pengalamannya semasa dia kecil hingga beliau menikah dan mempunyai putra yang pertama.

“Waktu itu ibu saya bilang, nak kalau kamu mau makan enak kamu harus punya ilmu.” Begitu beliau bercerita. Nasihat itu amat sangat melekat dalam benak beliau. Sehingga beliau mempunyai semangat belajar yang luar biasa, walaupun beliau akui saat itu frame nya adalah “Belajar untuk makan enak.”. Sejenak kami sedikit tertawa mendengar pengakuan Bu yuli.

Hingga pada tingkat tiga duduk kuliah beliau ditakdirkan untuk menikah, dan suaminya mengizinkan beliau untuk menyelesaikan studi. Tibalah beliau mempunyai putra pertama, dan saat itu studi nya masih belum selesai. Karena pesan sang ibu masih melekat kuat “Belajar untuk makan enak”, di masa-masa awal usia anak pertamanya, beliau tidak banyak memperhatikan anaknya dengan betul-betul.

“Waktu anak pertama saya kecil setiap kali dia minta saya untuk menemaninya bermain. Saya suka membujuknya, nak kamu main sama mbak aja ya (pengasuh, red.).” Bu Yuli menerawang pada masa-masa awal pernkahannya. “Anak kecil itu menurut, kemudian dia pergi meninggal saya dengan tugas skripsi saya.”

“Di lain waktu anak lelaki saya datang lagi. Umi, aku mau ikutan nulis ya….” Lanjut beliau. “Aduh anak baik, kamu nonton tivi aja ya, pekerjaan umi belum selesai.” Beliau terdiam sejenak. “Anak itu kemudian meninggalkan saya, lalu dia ‘anteng’di depan tivi.”

Dan tahukah apa yang terjadi saat anak lelaki itu berusia lima belas tahun. “Anak lelaki itu sedikit sekali memberi perhatiannya kepada saya dan ayahnya.” Aku beliau. “Anak lelaki saya pertama, ketika usianya remaja. Kalau sedang sibuk mengerjakan sesuatu hal, terus kita datang menghampirinya, sekedar untuk melihat atau bertanya tugas apa yang sedang dia kerjakan. Anak itu bilang, umi apaan sich deket-deket.”. Hmmm, beliau sejenak menghela nafas panjang. Saat itu juga suasana diskusinya menjadi hening. “Usia anak pertama saya ketika 15 tahun, melihat ibu bapaknya kerja beres-beres rumah, dia malah anteng nonton tv. Engga nanya sedikit pun apa yang sedang dikerjakan oleh orang tuanya.”

“Saya kemudian banyak-banyak ber-istighfar, saya tobat, mohon ampun kepada Allaah. Bahwa saya telah melupakan anak pertama saya. Saya tidak menyalahkan dia, karena seolah-olah saya dibukakan betul oleh Allaah akan kesalahan saya ketika mendidik dia semasa kecil.”. Bu Yuli kemudian melanjutkan ceritanya “Sejak saat itu saya tersadar, saya bicara pada suami saya. Saya minta maaf kepada suami saya karena telah lalai dalam mendidik anak pertama kami. Dan saya bersyukur sekali ketika suami saya berkata : Ini kekeliruan kita, saya juga spertinya belum maksimal dalam memimpin rumah tangga ini. Ya sudah, kita perbaiki bersama mi.” (Saya memperhatikan wajah audience ketika Bu Yuli bercerita bagian ini. Rata-rata pada senyum mesem-mesem gitu dech. Kayaknya berharap dapat suami yang bijak juga).

“Sejak saat itu saya mulai merubah pola fikir saya. Sejak saat itu saya dan suami bertekad untuk merubah pola pengajaran kepada anak-anak kami. Saya kemudian rajin membuka tafsir Al-Qur an dari berbagai narasumber. Di rumah ada 9 judul tafsir yang ditulis oleh 9 penulis yang berbeda. Ada perbedaan redaksi yang berbeda dalam setiap tafsir, namun satu benang merahnya dapat kita simpulkan dari redaksi-redaksi tersebut.”

“Dan hingga akhirnya saya fahami, bahwa setiap anak membawa fitrah dari Allaah untuk ta’at kepada Allaah. Bahwa setiap anak manusia dilahirkan untuk taat, patuh dan tergantung kepada Tuhannya. ”. Kemudian beliau bercerita, mengapa dalam kehidupan ada yang kepercayaan yang bersifat animisme dan dinamisme. Mengapa manusia mempunyai banyak-banyak keyakinan. Karena kebutuhan akan fitrah ini tidak tersalurkan dengan benar. Kebutuhan akan sandaran kepada Sesuatu Yang Serba Sempurna dan Serba Maha, tidak diiringi oleh pengetahuan untuk mengenali Dzat itu. Padahal Allaah telah menurunkan Al-qur an sebaga perangkat aturan untuk mengenal-Nya dan menyembah-Nya.

“Maka saya berdoa kepada Allaah agar saya diberi kemampuan untuk mendidik anak-anak saya sesuai dengan ketentuan Al-Qur an. Saya tinggalkan teori-teori barat tentang pengasuhan anak. Lalu saya sekolahkan anak saya yang ketiga dan bungsu, di sekolah Islam Terpadu. Walaupun pendapatan saya dan suami tidak dibilang berlebih. Namun karena tekad awal untuk memperbaiki kesalahan saya, maka saya dan suami berusaha dengan sungguh-sungguh. Kalau urusan rezeki nya itu Allaah sudah mengatur.” Papar beliau ringan.

“Saya berusaha untuk mendidik anak-anak saya dengan bahasa Al-qur an. Karena Bahasa Al-Qur an itu sangat sempurna. Contohnya, kalau dimeja makan, saya dapati anak saya yang kecil mengambil makanan banyak-banyak, saya selalu ingatkan dia. Nak, kalau tidak habis itu namanya apa? Lalu anak saya bilang mubadzir umi!. Mubadzir itu?, anak saya pasti langsung nimpalin mubadzir itu temennya setan umi. Saya senyum aja, anak itu dengan sendirinya memperbaiki apa yang baru saja dilakukannya. Sedikit dulu ya umi, kalau mau lagi baru ngambi lagi? Biasanya dia tanya begitu sambil nyengir malu-malu.”

“Dan Alhamdulillah, anak saya yang ketiga. Sekarang lebih baik dari kakaknya. Sewaktu dari TK sampai sekarang SMU sekolah di sekolah Islam Terpadu. Seumur-umur saya menjadi pengajar, saya belum pernah mendengar ada anak yang kangen sekolah di hari sabtu dan ahad. Tapi anak saya yang satu ini lain. Waktu SD, hari sabtu dan ahad dia libur sekolah. Kemudian dia bertanya : Umi, kapan ya sekolah masuknya ? kangen ih, pengen sekolah!. Saya tertegun ada apa dengan sekolahnya sehingga dia begitu kangen sekolah disaat yang lainnya senang ketika libur.”. Cerita Bu Yuli penuh heran “Saya datangi sekolah anak saya, saya perhatikan bagaimana cara guru-guru tersebut mengajar. Mmmm, saya kemudian dapat ilmu baru, bagaimana caranya menjadi guru yang dikangenin sama anak-anak siswanya.” Bu Yuli kemudian tertawa lebar, seolah dia dapat jurus baru untuk mengajar siswa-siswanya di tempatnya mengajar.

“Anak saya yang perempuan sekarang SMU, berjilbab lebar, hobinya naik tebing. Kalau sedang manjat tebing saya selalu menemaninya. Dia tidak pernah mau kalau dipasangkan peralatan manjat oleh laki-laki. Katanya engga syar’i. Sekali waktu dia minta paralayang, tapi saya jelaskan sama dia, kalau paralayang itu jarang sekali ada yang perempuan, kebanyakan laki-laki. Nanti kamu gimana nduk?. ” (Logat Jawa Bu Yuli masih terdengar jelas). “Kalau sudah urusan enggak syar’i, anak saya yang ketiga ini lebih milih mundur. Sekalipun dia suka.”.

Forum silaturahim itu sebenarnya masih banyak menceritakan hal-hal menarik lainnya. Cerita Bu Yuli tentang jadi perantara saat ta’aruf dua orang saudaranya, cerita ibu tentang 19 anak asuhnya yang dia ambil dari jalanan. Cerita tentang kelompok iqro dan kelompok kreatifnya yang hanya mengandalkan garasi rumah seukuran 4 x 4 meter. Namun, waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, dan adzan dzuhur dari Masjid Salman pun telah terdengar. Dan acara silaturahim itu harus ditutup. Ada ilmu yang masih membekas, bekal untuk dibawa pulang, bekal untuk kami amalkan kelak. Semoga beliau diberi kemudahan oleh Allaah untuk menjalankan setiap amanahnya. Dan semoga apa yang sudah dilakukannya menjadi investasi kebaikan untuk beliau. SBY-JK (Syukron Banget Ya-Jazakallaah) Bu Yuli.

“memang tidak akan ada yang sempurna, namun saat kita mau belajar dari kesalahan, kemudian memperbaiki diri, itu mungkin yang akan membuat sesuatu menjadi lebih baik.”

Evaluasi Cinta

Bahwa sebuah pernikahan dibangun dari sebuah dari komitmen untuk menyempurnakan agama. Diniatkan dari nilai ibadah kepada Allaah. Sama seperti halnya kita hendak melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya, seperti kita hendak shalat, puasa atau berhaji. Ketika kita hendak shalat kita, berwudlu, kemudian berniat dengan benar, dan kita berdiri tegap, tanpa main-main. Karena kita sadar kita akan shalat, kita akan beribadah kepada Allaah. Begitu juga dengan pernikahan, tidak cukup dengan semangat, tidak cukup dengan keinginan yang menggebu. Karena pernikahan adalah salah satu realisasi ibadah kita kepada Allaah.

Nasihat dari seorang murabbi bilang, “Alangkah baiknya bila kita dalam proses ta’aruf kondisi keimanan kita sedang dalam keadaan naik-naiknya. Kita sedang dekat dengan Allaah, sedekat-dekatnya.”. Ketika dalam seperti itu berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Bukan hanya kemungkinan jadi atau tidaknya dengan seseorang yang sedang berta’aruf dengan kita. Tetapi yang dimaksud dengan kemungkinan yang lainnya adalah bahwa kita lebih berharap kepada orang yang sedang berta’aruf dengan kita, daripada kita berharap kepada Allaah. Dan itu barangkali lebih berbahaya dari kemungkinan yang pertama.

Saya kembali ingat dengan tulisannya Mbak Rabiyatul Adawiyah (nama pena, pent.) dalam buku “Diary Pengantin” yang ditulisnya dengan Mbak Izzatul Jannah dalam buku itu beliau bilang ketika berta’aruf beliau berdoa, kira-kira redaksinya begini (lupa-lupa inget, soalnya udah lama banget baca buku itu) “Ya Allah, aku berharap agar niat baik ini tidak didahului oleh setan, agar cinta yang tumbuh tidak didahului oleh nafsu.”. Jadi memang ketika, prosesnya dijalani do’anya mesti dikencengin. Maksudnya agar ketika proses ta’aruf itu dijalani kita memang sedang dekat-dekatnya dengan Allaah.

Seorang sahabat saya, ketika dia masih kost di Ciwaruga dulu. Tiba-tiba lebih sering menangis di malam hari, sewaktu dia qiyamul lail. Apa dia tangisi saya juga masih banyak tanda tanya. Tapi saat itu saya tidak berani bertanya ada apa gerangan sehingga dia lebih sering menangis?. Kemudian baru ketahuan, ternyata dia sedang menjalani proses menjelang pernikahan. Mmmm, saya cuma manggut-manggut waktu dia “dipaksa” oleh teman-teman ngadain “kofrensi pers” dadakan di kostan, 2 minggu menjelang dia menikah.

Jadi rasanya mesti kroscek lagi nich. Barangkali selama ini baru semangat aja yang muncul. Barangkali selama ini cinta yang ada bikin hati berantakan amburadul engga karuan. Barangkali Allaah memang sengaja menunda menghadirkan pasangan kita, karena kita belum sungguh-sungguh menata cinta kita dengan baik. Memang tidak akan sempurna, namun Allaah melihat kesungguhan kita untuk mendekat kepada-Nya, lebih dekat lagi, sedekat-dekatnya.

(Ya Allaah, hadirkan pasangan hidup bagi yang merindukannya. Bagi yang menjaga kesucian dirinya. Bagi yang menjaga hatinya. Amiin)

aku bete lagi, dia nya marah lagi….

aku sudah berulangkali mencoba memahaminya. mengenalnya lebih dekat, sehingga aku faham betul siapa dirinya. jarang berbicara, sekali waktu bila sedang tidak enak hati dia hanya berdiam diri. tapi lain kali bila suasana hati kami sedang baik, kami merasa sangat dekat.

mendekati hari-hari ku di tempat ini, banyak dead line pekerjaan yang harus aku penuhi. sehingga aku begitu fokus pada pekerjaanku. sepanjang hari, perhatianku tak pernah lepas dari komputer dan data. ini yang kemudian komunikasi ku menjadi kaku dan seperlunya.

seperti yang terjadi di hari ini. dia bertanya kepada ku tentang suatu hal dan aku tidak begitu memperhatikannya , karena aku sedang membuat laporan keuangan dan perhatian benar-benar suntuk pada laporan keuangan itu. lalu dia marah, kemudian keluar membanting pintu….astaghfirullaahal’adziim

demi allaah, aku tak hendak membuatnya marah, tak hendak membuatnya tersinggung, atau apa pun juga. ya allaah, kalau saja aku bisa lebih sabar dari sekarang ini, bisa lebih kuat dari sekarang

lillaah, fillaah ya ukhti…..

Pertama kali, saya datang ke tempat ini. Tak ada niat lain, bahwa seseorang mempunyai kebutuhan aktualisasi diri. Tidak terfikir berapa gaji yang kemudian saya dapatkan, apa pekerjaan saya kemudian, dan lingkungan seperti apa yang akan saya hadapi. Hanya satu yang jelas saya ketahui, bahwa di situ adalah wajihah ikhwah dan disitu ada murabbiyah saya.

Dalam masa penantian menerima jawaban dari tempat ini, hanya satu hal yang saya yakini. Bahwa tempat ini tak akan pernah mengambil orang yang salah. Karena saya percaya benar bahwa tempat ini adalah tempat orang yang baik-baik.

Tapi pandangan saya sama sekali berubah, berubah 180 derajat. Ketika saya mengetahui dengan apa yang terjadi di tempat ini. Bahwa kemudian idealisme tarbiyah tidak saya temui dalam aktivitas keseharian di tempat ini. Akhirnya saya kembali pada frame lama saya, bahwa wajihah ikhwah tak selalu indah.

Saat itu, tidak banyak orang yang dapat saya percayai. Hanya beberapa orang saja yang dapat saya hitung dengan jari. Ah, betapa sulitnya mencari orang yang sempurna (dan pasti memang tidak akan ada yang sempurna).

Ramadhan, Antara Generasi Awal dan Generasi Sekarang


dakwatuna.com – Betapa besar perbedaan antara shaumnya –puasanya- kita dengan shaumnya salafus shalih -generasi awal Islam-.

Generasi awal Islam berlomba meraih nilainya, berkutat dalam naungannya dan mengerahkan segenap kekuatan fisik dan kekuatan jiwa untuk mengisinya.

Siang hari mereka adalah kesungguhan, produktifitas dan profesional.

Malam hari mereka adalah malam-malam meraih bekalan ruhani, tahajjud dan tilawatul Qur’an.

Sebulan penuh mereka belajar, beribadah dan berbuat baik.

Lisan mereka shaum, jauh dari berkata yang tidak ada manfaatnya, apalagi kata-kata kasar, jorok dan dusta.

Telinga mereka shaum, tidak mendengarkan pernyataan sesat, negatif dan sia-sia.

Mata mereka shaum, tidak melihat yang diharamkan dan perbuatan tidak senonoh.

Hati mereka shaum, tidak terbersit untuk melakukan kesalahan atau dosa.

Dan tangan mereka, tidak digunakan untuk mengambil yang tidak halal dan tidak menyakiti.

Berbeda dengan muslim sekarang ini.

Di antara mereka ada yang menjadikan Ramadhan sebagai musim ta’at kepada Allah swt. dan melipatgandakan kebaikan.

Mereka shaum siang harinya dengan sebaik-baiknya. Mereka qiyam Ramadhan –shalat tarawih dan tahajjud- dengan sebaik-baiknya.

Mereka bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat yang diberikan, dan mereka tidak lupa saudara-saudara mereka yang lemah dan tidak beruntung.

Mereka berusaha meneladani Nabi, sebagai orang yang paling dermawan dan paling banyak berbuat baik dalam bulan Ramadhan, laksana angin yang tertiup.

Kelompok lain adalah, kelompok yang tidak pernah tahu dan sadar akan kebaikan Ramadhan. Mereka tidak merasakan manfaat dari bulan Ramadhan. Mereka tidak peduli dengan shiam dan qiyam. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Padahal Allah swt. menghidangkan Ramadhan bagi qalbu dan ruh –hati dan jiwa- sekaligus. Sedangkan mereka malah menjadikan Ramadhan untuk memperturutkan syahwat perut dan mata (tidur) semata.

Allah swt. menjadikan Ramadhan sebagai upaya menyemai sikap kasih sayang dan kesabaran. Justeru mereka menjadikannya sebagai ajang amarah dan mengumpat.

Allah swt. menjadikan Ramadhan sebagai wahana meraih sakinah –ketentraman- dan keteduhan. Mereka malah menjadikannya sebagai bulan pertengkaran dan perselisihan.

Allah swt. menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri, namun mereka hanya merubah jadwal makan belaka.

Allah swt. menghadirkan Ramadhan untuk menggugah si kaya agar peduli dengan yang tak berpunya. Namun mereka menjadikannya sebagai ajang memperbanyak makanan dan minuman dengan aneka ragamnya.

Semoga umat muslim melaksanakan shaum Ramadhan adalah dalam rangka meraih janji Allah swt. taqwallah, bertaqwa kepada Allah swt. sebagaimana yang diperintahkan Al Qur’an, dengan demikian mereka akan keluar dari Ramadhan menjadi orang-orang yang suci (fithri) dan dosanya terhapuskan, biidznillah. Allahu a’lam

Jenuh

Jenuh dengan rutinitas yang selalu begitu-begitu saja…..

Mencari pencerahan,mencari warna baru dalam kehiduoan…..

Semoga ada yang berubah,dari hal-hal kecil yang dilakukan…

Mulai berproses dengan hal-hal yang sederhana…

Walaupun sedikit, perubahan akan memberikan warna yang berbeda…

Mengubah wajah dunia….

Mengukir sejarah….

Mungkin tidak saat ini….

Tapi 10 tahun mendatang….

100 tahun…

Atau bahkan 1000 tahun kemudian……

Setiap perubahan yang kita lakukan…..

Akan menjadi benih peradaban….

Tidak akan kita langsung rasakan………

Tapi, itu yang kita wariskan pada anak dan cucu kita…..

8 Tips Sambut Ramadhan

Oleh: Ulis Tofa, Lc



dakwatuna.com – Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.

Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan” :

1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)

2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Muhamad:21.

6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pemberishan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.

8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan

Oleh Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, MA

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (QS Az-Zukhruf: 44).

Ketika Allah Swt.. menjadikan Islam sebagai rahmat buat alam semesta; ketika Allah Swt. menghendaki dari umat Islam menjadi umat terbaik; ketika Allah Swt. menghendaki agar umat Islam mampu memikul amanah untuk memimpin dunia ini; ketika Allah menghendaki agar umat Islam menjadi saksi bagi seluruh umat manusia, maka ketika itulah Allah Swt. mempersiapkan umat Islam sedemikian rupa, agar umat Islam ini layak menjadi umat yang terbaik. Di antara sarananya adalah dengan pembentukan manusia yang bertaqwa. Pembentukan manusia yang bertaqwa inilah yang banyak dilupakan manusia, sehingga ukuran kemajuan atau ukuran kesejahteraan hidup diukur dengan paradigma materi. Lupa bahwa manusia itu bukan hanya dari unsur materi saja, tetapi manusia punya nurani yang harus diperhatikan, yang harus dibina sehingga pantas untuk menjadi manusia yang terbaik. Oleh karena itu Ramadhan hadir di tengah-tengah kita dalam rangka untuk menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang layak memimpin dunia ini.

Di dalam bulan Ramadhan banyak sekali kebajikan ilahi yang harus kita dapatkan, sehingga kita keluar dari bulan Ramadhan ini benar-benar menjadi manusia terbaik, manusia yang berkualitas, manusia yang berprestasi. Oleh karena itu marilah kita berupaya benar-beanr memahami puasa itu sebagaimana yang diharapkan Allah Swt.

Pertama, puasa membentuk manusia yang mengoptimalkan kontrol diri (self control). Mengapa? Karena puasa sangat terkait dengan keimanan seseorang. Seseorang bisa saja mengatakan dirinya sedang berpuasa, sekalipun sebenarnya tidak. Oleh karena itu puasa disebut ‘ibaadah sirriyyah (ibadah yang bersifat rahasia). Rahasia antara seorang hamba dengan Al-Kholiq. Sampai-sampai Allah Swt. mengatakan dalam sebuah hadits Qudsi yang sering kita dengar “Kulluu ‘amali ibnu aadama lahu illash-shiyaam. Fa innahu lii wa ana ajzii bihi (setiap amal manusia untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk aku. Dan akulah yang membalasnya)”. Pertanyaannya adalah apakah amal selain puasa tidak dibalas Allah? Dibalas. Tetapi kenapa dalam masalah puasa Allah menegaskan bahwa Dia yang akan membalasnya sehingga seolah-olah amal yang lain itu bukan Allah yang membalasnya? Ini merupakan isyarat Rabbaniyah bahwa amal manusia yang bernama ash-shiyam benar-benar insya Allah akan dijamin diterima oleh Allah Swt. Apakah yang lain tidak dijamin? Ini karena puasa itu adalah ibadah sirriiyyah, dimana orang tidak mengetahui dan tidak melihat ketika dia berpuasa. karean ketika kita berpuasa, tidak ada orang lain yang tahu. Maka ibadah yang sirriyyah itu adaah sangat dekat dengan keikhlasan. Dan syarat agar suatu amal itu diterima oleh Allah, selain harus benar sesuai dengan ajaaran Rasulullah Saw., harus ikhlas. Makanya kalau ingin menjadi orang yang populer, tidak bisa melewati pintu puasa. Kalau terkenal sebagai seorang mubaligh, bisa. Terkenal menjadi qori’ dan qori’ah, bisa. Terkenal menjadi politikus, bisa. Dan itu semuanya sangat rawan dengan riya’, dan riya’ itu menjadikan amal tidak diterima oleh Allah Swt. Itulah sebabnya mengapa dalam kaitannya dengan puasa ini Allah menegaskan bahwa Dia sendiri yang akan membalasnya. Inilah yang dikatakan bahwa puasa akan melatih kita untuk mempunyai tingkat kontrol yang tinggi, baik ketika kita menjadi seorang pemimpin, atau karyawan, ulama’ atau yang lainnya. Kita tidak merasa dikontrol oleh yang lainnya, akan tetapi yang terpentinga dalah bahwa kita sadar bahwa kita dikontrol oleh Allah Swt.

Yang kedua, lembaga shiyam ini mendorong kita agar kita agar obsesi kita tentang kehidupan akherat itu lebih dominan daripada obsesi dunia. Jadi obsesi ukhrowi kita, agar kita menjadi hamba Allah yang akan mendapatkan kenikmatan abadi, itu harus lebih dominan daripada kesenangan yang sifatnya sementara. Karena seluruh kenikmatan yang ada di dunia ini, nikmat apa pun namanya, harta, pangkat, dan sebagainya itu semuanya bersifat sementara. Makanya dalam bahasa Al-Qur’an kenikmatan dunia itu tidak disebut nikmat, akan tetapi disebut mata’. Mata’ itu arti adalah maa yatamatta’u bihil insan tsumma yazulu qoliilan-qoliilan (mata’ adalah sesuatu yang disukai oleh manusia, akan tetapi sedikit demi sedikit akan hilang)”. Kalau kita ditakdirkan Allah mempunyai istri yang sangat cantik, ketika sudah berusai 60 tahun, maka kecantikannya pasti akan luntur, sehingga mungkin kita berpikir mencari yang masih muda lagi. Kenapa? karena kenikmatan dunia itu pasti ada batasnya. Ini adalah halyang manusiawi. Puasa itu melatih kita agar obsesi yang ada dalam diri kita itu obsesi yang tentang kehidupan yang abadi di akhirat. Makanya makanan, minuman, istri, dan semua yang halal itu kita gapai dalam rangka untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi.

Di negara kita yang sedang terkena krisis multi dimensional ini dan dipenuhi dengan kerusuhan, disebabkan karena banyak manusia di negara ini ytang obsesinya bukan obsesi ukhrowi. Ada orang yang ingin menjatuhkan orang lain, ada orang yang khawatir kalau-kalau dijatuhkan. Kalau obsesi duniawi ini dominan, bisa-bisa kita akan kehilangan kehidupan ukhrowi kita. Ketika kita memasuki bilan Ramadhan, maka kita akan ditarbiyah oleh Allah agar obsesi kit aadalah obsesi ukhrowi. Namun ini bukan berarti kehidupan duniawi dilarang. Akan tetapi duniawi itu bukan yang dominan dalam kehidupan kita. Makanya kita diajarkan untuk berdo’a “Walaa taj’al mushiibatana fii diinina, walaa taj’aliddun-yaa akbaro hammina (jangan jadikan dunia sebagai obsesi terbesar dalam kehidupan kami), walaa mablagho ‘ilmina, walaa ilannaari mashiirona. Do’a ini sering dibaca, akan tetapi dalam perbuatannya warnanya lain.

Yang ketiga, dari lembaga shiyam ini akan melahirkan manusia-manusia yang benar-benanr mempunyai al-hasasiyyah al-ijtima’iyyah (mempunyai kepekaan sosial yang tinggi). Dari mana bisa kita ketahui? Ketika kita berpuasa sunnah, baik Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh, kita merasakan berpuasa sendirian. Dibandingkan dengan puasa di bulan Ramadhan, puasa sunnah ini perasaan kita lebih berat, karena dilaksanakan sendirian. Ini yang harus kita perhatikan, sekarang ini bangsa kita (sebagian besar) sudah kehilangan kepekaan sosial. Kalau ada tindak kejahatan di tempat keramaian, sangat langka kita temukan orang yang peduli dengan membantu melawan penjahat. Kalau ada wanita yang sangat cantik lewat dan hampir semua mata melihat, apakah ada orang yang memprotes hal itu? Padahal, bukankah wanita itu isterinya orang yang haram untuk dipelototi? Bahkan perbuatan seperti ini kadangkala diberikan pembenaran dengan dalih ‘mubadzir’ kalau tidak dilihat. Ini menunjukkan rendahnya sensitifitas keimanan (hasasiyah imaniyah). Yang ada adalah kerawanan dalam kehidupan sosial, karena kemaksiatan sudah melembaga dan orang diam saja ketika melihatnya. Padahal di masa Rasulullah SAW, orang tidak akan tinggal diam ketika melihta suatu kemungkaran. Bahkan ketika jauh setelah kehidupan Rasulullah, baik di jaman tabi’in maupun tabi’it tabi’in, tetapi mereka masih komitmen dengan ajaran Allah, maka sensitifitas sosial itu sangat tinggi. Misalnya, di jaman dahulu kalau kita shalat jama’ah di masjid, kemudian kita melihat ada tetangga atau saudara kita tidak datang, maka setelah selesai shalat, semua jama’ah langsung mendatangi orang yang tidak shalat berjama’ah tadi untuk menziarahinya, seolah-olah orang yang tidak shalat jama’ah itu adalh orang yang mati sehingga perlu dita’ziyahi. Kalau seandainya kita tidak shalat jama’ah dan kemudia kita dita’ziyahi, maka kita akan termotivasi untuk selalu shalat jama’ah. Dan shalat jama’ah adalah ibadah yang sangat terkait dengan sensitifitas sosial. Ironisnya di negara ini ketika ada orang diganggu, dicopet, atau digoda, yang lainnya diam saja, dan bisikan yang ada dalam dirinya adalah ‘yang penting saya selamat’. Orang seperti ini adalah orang yang mati dalam kehidupannya, karena bahasa masing-masing itu bahasa akhirat, bahasa ketika kiamat tiba, sehingga orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Suami lari dari istri dan anaknya, anak lari dari orang tuanya. Allah berfirman:

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” (QS ‘Abasa: 33-37).

Jadi kehidupan masing-masing itu adalah kehidupan akherat. Akan tetapi sekarang ini sudah ada di dunia., Berarti seolah-olah sebagian masyarakat sudah merindukan kematian, padahal masih hidup. Makanya banyak kebajikan yang tidak jalan, keadilan tidak tegak. Dalam kondisi demikian, puasa hadir di tengah-tengah kita untuk memperlihatkan bagaimana Islam itu benar-benar mempunyai kepedulian terhadap kehiduapan bermasyarakat.

Pada masa Rasulullah Saw., ada juga kemaksiatan. Ada juga shahabat yang berbuat maksiat, karena mereka bukan malaikat. Sekalipunsebaik-baik generasi adalah genarasi Rasulullah Saw., akan tetapi ada saja yang berbuat maksiat. Ada yang pernah mencuri, ada yang pernah berbuat zina dan yang lainnya. Akan tetapi kriminalitas itu masih sangat kecil sekali, sehingga jarang ditemui. Itu pun bersifat pribadi dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ironisnya, sekarang maksiat itu dilakukan ramai-ramai dan secara terang-terangan tanpa malu-malu. Sehingga yang benar itu tertutup, keamanan tidak nampak. Yang nampak adalah sesuatu yang menakutkan. Bahkan kadang-kadang sampai di tempat yang suci seperti masjid, kadang-kadang orang tidak bisa khusyu’ shalatnya karena takut sepatu atau sandalnya hilang. Kalau di masjid saja orang masih tidak khusyu’ beribadah karena khawatir menjadi korban kejahatan, bagaimana di tempat yang lain? Ini semua karena bayak orang yang telah kehilangan kepedulian sosialnya. Inilah bedanya antara jaman kita dengan jaman Rasulullah Saw. Bahkan di masa Rasulullah Saw., ketika ada seorang berbuat zina dan kemudian dia hamil, dia sendiri kemudian bertaubat dan malah dia sendirilah yang melakukan perbuatannya itu kepada Rasulullah Saw., karena ketika dia berzina, itu terjadi karena kelemahamn iamnnya. Dalam hadits dijelaskan “Laa yadri azzani ila yazni wahuwa mu’min (tidaklah seseorang berani berbuat zina ketika zina, sementara dia dalam keadaan beriman)”. Ketika seorang perempuan tadi berzina, dan setelah itu ia sadar bahwa ia telah berbuat dosa, langsung dia datang kepada Rasulullah Saw. minta agar dia dihukum sesuai dengan ajaran Islam. mari kita merenung. Memang benar bahwa pada masa Raulullah pun ada orang yang berbuat salah. Akan tetapi ketika ada diantara mereka yang berbuat salah, dia langsung mengaku dan minta dihukum, padahal oranmg lain tidak tahu. Sekarang bagaimana kondisinya? Jadi kalau kita bersalah, hendaklah kita datang untuk minta dihukum. Kenapa? Karena seorang mukmin yang benar-benar beriman, benar-benar yakin bahwa siksa akhirat itu lebih pedih. Dengan demikian, benar-benar akan efisien tenaga itu. Kalau seandainya semua orang sama dengan wanita yang bertaubat ini, maka aparat hukum tidak perlu capai-capai.

Ash-shiyam secara bahasa artinya adalah al-habsu (menahan diri), menahan diri dari seluruh bentuk kemaksiatan. Kalau setiap kita menahan diri, jangankan terhadap yang haram, yang mubah saja akan kita tinggalkan. Makanan, minuman, istri itu kan boleh. Akan tetapi di bulan Ramadhan pada siang harinya semua bisa kita tahan. Kalau yang halal saja bisa kita tahan, apalagi yang haram? Oleh karena itu jangan dalam berpuasa malah terbalik, yaitu yang mubah ditinggalkan tetapi yang haram dilakukan. Makanan, minuman ditinggalkan, ghibah dilakukan, korupsi jalan terus, dengan alasan untuk persiapan lebaran.

Inilah kepekaan-kepekaan ruhani yang benar-beanr mengalir dalam setiap diri kita ketika kita berpuasa sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt. Dan jangan sampai ada di antara kita yang menganggap bahwa puasa itu berat. Bahkan Rasulullah Saw. dan para shahabat serta para tabi’in, banyak yang menggunakan Ramadhan untuk berjihad di jalan Allah Swt. Perang Badar, Perang Fathu Makkah, Perang ‘Iinu Jaalut yang terjadi pada abad ke-7 Hijriyah, dimana tentara-tentara Islam di bawah pimpinan mamaalik (jama’ dari mamluk) bisa mengalahkan tentara-tentara salib, terjadi di bulan Ramadhan. Saking hebatnya kemenangan yang dicapai umat Islam pada bulan Ramadhan, Allah Swt. mengabadikannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang terdapat pada QS Al-Anfal, dimana perang Badar dikatakan sebagai yaumal furqoon, sebagaimana yang terdapat pada firmanNya:

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Penguasa segala sesuatu” (QS Al-Anfal: 41).

Pasukan kebenaran yang jumlahnya sedikit, tetapi dimenangkan oleh Allah Swt. dalam melawan kekuatan bathil yang mempunyai kekuatan besar dan jumlah tentara yang sangat banyak. Oleh karena itu Ramadhan yang akan kita lalui ini semoga mengantarkan kita pada kemenenagan, kemenangan melawan hawa nafsu, kemenangan bangsa ini dalam melawan krisis, kemenangan umat Islam dalam melawan perselisihan, percekcokan antara sesama umat Islam, kemenangan bangsa ini dalam menghadapi konspirasi dunia internasional yang dimotori oleh Yahudi, yang mereka tidak senang melihat Indonesia maju karena negara ini adalah negara Islam. oleh karena itu marilah kita jadikan Ramadhan ini kita jadikan momentum Islam untuk kembali kepada Allah sehingga mencapai kemenangan yang hakiki. Wallahu a’lam bishshawab.

Khadijah Al-Kubra

Nabi Muhammad saw mengorbankan sebagian besar waktunya dengan meditasi di dalam kesunyian gua Hira. Pada suatu hari, ketika beliau sedang tekun bermeditasi, beliau menerima wahyu yang pertama. Malaikat Jibril mewahyukan kepadanya firman Tuhan yang pertama , yang termaktub dalam Qurtan, surah Iqra.

Nabi Muhammad menjadi sangat gelisah mendapatkan pengalaman baru itu, dan sampai di rumah beliau menggigil ketakutan, lalu berbaring di tempat tidur, suhu badannya sangat tinggi.

Istrinya, Khadijah, menjadi sangat khawatir dengan keadaan yang luar biasa itu. Kemudian, Nabi dirawat dan ditanya sebab kegelisahan itu. Nabi Muhammad saw menceritakan seluruh kejadian tentang pengalamannya dengan wahyu pertama yang aneh itu.

Dengan sangat gembira Khadijah memberikan selamat karena suaminya telah diangkat ke posisi yang tertinggi, menjadi utusan Tuhan. Ia berkata, “Bergembiralah, karena Tuhan tidak akan meninggalkanmu.” Khadijah-lah orang pertama yang memeluk Islam, agama baru itu.

Khadijah binti Khuwailid, tergolong dalam keluarga Quraisy, Abd-alUzza, menduduki tempat terhormat sebagai istri pertama Nabi Muhammad saw.

Khadijah adalah seorang janda yang kaya, yang dianugerahi sifat-sifat mulia. Karena kehidupannya yang berbudi luhur itu, beliau terkenal dengan nama Tahira. Menurut Tabaqot ibu Saad, beliau adalah wanita terkaya di Mekkah kala itu .

Muhammad berniaga dan terkenal di seluruh Hijaz karena kejujuran, kesetiaan dan moralnya. Karena sifat yang mulia ini, beliau dijuluki “alamin” (yang dapat dipercaya) .

Khadijah juga tertarik pada sifat-sifat cemerlang pemuda Muhammad, dan menerimanya bekerja pada usaha dagangnya. Muhammad dikirim ke Basrah membawa barang dagangan Khadijah. Setelah tiga bulan sekembalinya dari Basrah – Khadijah mengajukan lamaran un tuk nikah. Waktu itu Muhammad berusia 25 tahun, dan Khadijah 40 tahun.

Pada zaman itu wanita Arab bebas menentukan kehendaknya sendiri dalam hal pernikahan, oleh karena itu Khadijah langsung membicarakan lamarannya dengan Muhammad. Pada hari yang telah ditentukan, sanak keluarga Muhammad, termasuk pamannya Abu Thalib da n Hamzah, berkumpul di rumah Khadijah. Abu Thalib-lah yang memberikan kata sambutan dalam upacara pernikahan mereka.

Nabi Muhammad tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Khadijah sempat mendampingi Muhammad 25 tahun lamanya setelah perkawinan, dan meninggal dunia tiga tahun sebelum Hijrah. Khadijah memberikan enam anak, dua laki-laki: Qasim dan Abdullah, keduanya meninggal waktu masih bayi – dan empat orang anak wanita: Fatima az-Zahra, Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Karena Qasim-lah kadang-kadang Nabi disebut Abul Qasim (ayah Qasim).

Anak Khadijah – Zainab – dikawinkan dengan sepupu Zaenab. Kedua anak perempuan lainnya, Ruqaya dengan Usman – yang kemudian menjadi khalitah ketiga – dan Ummi Kalsum juga dengan Usman setelah Ruqaya meninggal dunia. Fatima az-Zahra, anak yang paling disay ang Nabi, dinikahkan dengan Ali. Keturunan penerus Nabi ialah melalui anak lakilaki Fatima Zahra, Hasan dan Husain.

Kecuali Ibrahim yang juga meninggal dunia dalam usia muda, semua anak Nabi diperoleh dari perkawinan beliau dengan Khadijah.

Rumah kediaman Khadijah kemudian dibeli oleh Amir Muawiya dan diubah menjadi masjid. Sampai sekarang, masjid itu masih menggunakan nama wanita agung itu.

Nabi Muhammad saw sangat menghormati dan mencintai Khadijah. Bahkan setelah Khadijah wafat pun Nabi masih sering mengenang dengan rasa sayang, syukur serta terima kasih. “Waktu semua orang lain menentang aku,” katanya, “Khadijah pendukungku; waktu semua o rang masih kafir, ia telah memeluk Islam; waktu tidak seorang pun yang menolong aku, dialah penolongku.”

Kekayaan dan kedudukan Khadijah yang tinggi di dalam masyarakat ternyata sangat bermanfaat untuk syiar Islam. Para ulama kebanyakan mengatakan bahwa Khadijah, Fatima, dan Aisyah adalah tiga wanita Islam yang terbesar. Menurut mereka, Fatima sebagai w anita pertama, Khadijah yang kedua, dan Aisyah ketiga dalam urutan wanita-wanita terbesar di dalam Islam.

Menurut Hafiz ibnu Qayyim, murid pengikut imam ibn Taimiya, jika orang memandang atas dasar hubungan darah dengan Nabi, maka Fatimalah berada di urutan atas. Tapi kaiau orang meiihat siapa yang mula-mula memeluk agama Islam, dan siapa yang memberikan dukungan moril maupun materiil kepada agama baru ini, maka Khadijah-lah yang pertama dalam posisi itu dan kalau dalam hal ilmu serta pengabdiannya dalam penyebaran agama Nabi, Aisyah tidak ada tandingnya.

Beberapa hadits Nabi memuji Khadijah. Menurut Sahih Muslim terdapat dua orang wanita yang menempati posisi tertinggi di dalam pandangan Tuhan: Mariam dan Khadijah.

http://www.sunnah.org/history/Sahaba/Indon/khadijah.html

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.